PPI Maroko

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Khutbah Jumat : Bentuk Syukur


Ma’asyiral muslimin jamaah sholat jum’ah ya dirahmati Allah.

Dalam setiap khutbah jumat khatib selalu berpesan untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kwalitas taqwa kepada Allah swt, taqwa dalam artian aplikasi perbuatan bukan hanya saja dalam teori, yaitu usaha kita untuk selalu menjalankan perintahNya baik yang fardhu ataupun sunnah dan selalu menjauhi laranganNya baik yang makruh ataupun haram, taqwa yang seperti ini insyallah dengannya kita akan beruntung di dunia dan akhirat, karena hanya dengan takwa yang dapat membedakan derajat keimanan seorang hamba di hadapan tuhannya, tidak ada perbedaan antara orang arab dan selain arab, orang kaya dan miskin, orang hitam dan putih melainkan dari kwalitas takwanya. Allah swt. berfirman dalam surat (al-Hujurat: 13).

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”.

Ma’asyiral muslimin jamaah sholat jum’ah ya dirahmati Allah.

Rizki berarti pemberian atau karunia, bahkan imam ali aljurjani menyatakan bahwa rizki adalah pemberian atau karunia baik yang berbentuk nyata maupun abstrak, maka dengan demikian belum pernah sesaatpun dalam hidup kita ini rizki pernah berhenti baik sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Dari sekian banyak rizki yang allah berikan bahkan kita sendiri tidak mampu menghitungnya allah swt hanya meminta umatnya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan rizki yang ia berikan. Allah berfirman dalam sebuah ayat yang sudah sangat popular bagi kita semua, sebuah ayat yang menjadi andalan para dai yaitu dalam surat lbrahim: 7.

لإن شكرتم لأزيدنكم ولإن كفرتم إن عذابي لشديد

Yang artinya: “Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”.

Dalam ayat ini allah swt. mengingatkan kita semua bahwa kenikmatan bisa menjadi bencana apabila tidak disyukuri, berapa banyak orang kaya yang masuk surga karena hartanya begitu juga banyak yang masuk neraka karena hartanya. Hanya bagaimana ia mensyukuri dan menggunakan hartanya tersebut.

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam  benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan."Kata ini menurut sementara ulama berasal dari kata "syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah  satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur  dengan kata kufur, antara lain dalam lbrahim: 7 tersebut, yang artinya: “Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”.

Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman  yang diabadikan Al-Quran yaitu dalam surat (An-Naml: 40) Allah berfirman :

Yang artinya:"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[ialah taurat dan zabur]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".

Hakikat syukur adalah "menampakkan nikmat,"  dan  hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Adh-Dhuha : 11.

Yang artinya : "Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut”.

Sementara firman Allah Swt. Dalam surat al-Baqarah : 152 yang artinya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.

Sementara ulama menafsirkan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.

Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa,"Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka manusia) semuanya" (Shad: 82), dilanjutkan dengan pernyataan  pengecualian,  yaitu,  "kecuali hamba-hamba-Mu  yang mukhlash di antara mereka" (Shad: 83).

Dalam surat Al-A'raf: 17 Iblis menyatakan, "Dan Engkau tidak akan  menemukan  kebanyakan  dari mereka {manusia) bersyukur”. Kalimat "tidak  akan  menemukan"  di sini serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya).

Ma’asyiral muslimin jamaah sholat jum’ah ya dirahmati Allah.

Dengan demikian menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya wawasan alquran, syukur mencakup tiga sisi:

a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah.

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.

Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka tersebut, tetapi  karena  terbayang  olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain  yang  dapat  terjadi.

Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang  akan tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah.

b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.

Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa  sumber nikmat adalah Allah seraya memuji-Nya. al-Quran mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi "al-hamdulillah".

Hamdun (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain.

Kata "al" pada kata "al-hamdulillah" oleh pakar bahasa disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan". Sehingga kata "al-hamdu" yang ditujukan kepada Allah mengandung arti  bahwa  yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Dengan demikian syukur dengan lidah adalah dengan mengucapkan "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah).

c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah  yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan dalam surat Saba: 13.

“Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”.

Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh tersebut sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah. Sebagaimana tujuan penciptaan laut melalui firman-Nya dalam surat (An-Nahl: 14):

  “Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar  kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur".

Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga mensyukuri  nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta menuntut pula untuk  menciptakan kapal-kapal yang dapat mengarunginya.

Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah, Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku).Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap jengkal  tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?

Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau kamu kufur (tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak menampakkan  nikmatnya  yang masih terpendam di perut bumi, di dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih."

Suatu  hal  yang  menarik  untuk disimak dari redaksi ayat ini adalah kesyukuran dihadapkan  dengan  janji  yang  pasti  lagi tegas  dan  bersumber  dari-Nya  langsung, Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan  menimpa  yang tidak bersyukur.

Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer: "Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih".

بارك الله لي ولكم من القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من أيات وذكر الحكيم، أقول قولي هذا واستغفرو الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات من كل ذنب، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KE DUA

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى والدين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره الكافرون، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمد عبده ورسوله لا نبي بعده...

1. kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, 2.yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [yaitu mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya Dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.]. 3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. 4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. 5. dan tahukah kamu apa Huthamah itu? 6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. 7. yang (membakar) sampai ke hati. 8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. 9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Q.S. Al Humazah; 1-9)

Menukil dari perkataan Ibnu Qayyim aljauziyah dalam bukunya Tazkiyatun Nufus, beliau berkata:

ذكر ابن الإمام ابن القيم رحمه الله أن عنوان سعادة العبد ثلاثة أمور وهي أنه إذا أنعم عليه شكر وإذا ابتلى صبر وإذا أذنب استغفر.

Bahwasannya tanda dari kebahagiaan hamba adalah tiga perkara, yaitu: apabila diberi nikmat maka ia bersyukur, apabila diuji ia bersabar dan apabila melakukan dosa maka ia segera beristigfar.

Maka dari pada itu marilah kita syukuri atas segala nikmat dan rizki yang Allah. Swt. berikan kepada kita dengan menginfakan sebagian dari harta kita di jalan yang diridhainya, semoga kita menjadi hambanya yang pandai bersyukur lagi bersabar. Amin.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

PENGUNJUNG ONLINE

We have 18 guests online

Pesan & Kesan



Donasi

PPI Maroko menerima sumbangan yang tidak mengikat.

Kalender

OISAA

Photobucket