PPI Maroko

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Khutbah Jumat : Dimensi Tanggung Jawab dalam Kehidupan Insan


Segala puji hanya milik Allah semata, pemilik alam semesta, hanya kepada-Nya hakikat seluruh pujian kita, hanya Kepada-Nya tumpuan pertolongan kita, dan hanya kepada-Nya permohonan ampunan kita.Shalawat teriring salam sebanyak buih samudra, seluas bentangan langit, sejumlah dedaunan, semoga tetap tercurahkan kepada sebaik-baiknya pemimpin, penyampai risalah, pemegang amanah, penasihat umat, yang kehadirannya menghapuskan ghummah (kesedihan). Amma ba'du

Dengan semangat untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, khatib pada kesempatan kali ini (setelah mengajak dirinya sendiri) mengajak hadirin, untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt, sebab hanya dengan ketaqwaanlah kebahagiaan baik dunia maupun akhirat dapat kita peroleh.

Hadirin sidang jum'at yang selalu berniat menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin

Nabi Muhammad saw bersabda:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : كلكم راع فمسؤول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع وهو مسؤول عنهم، والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤولة عنهم، والعبد راع على مال سيده وهو مسؤول عنه، ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته .

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulallah saw berkata: " Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, kepemimpinan seorang penguasa atas rakyatnya, suami atas keluarganya, istri atas anak-anak dan harta suaminya, hamba atas harta tuannya, maka ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggung jawabannya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits yang simple mudah dipaham, mudah dihafal, tapi cukup sulit untuk diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, sebelum beranjak jauh tentang esensi dari hadits tadi, alangkah apiknya kita sejenak mencermati kandungan hikmah dari lafadz yang di ucapkan oleh manusia terfasih di alam ini. Dalam hadits tersebut. Nabi saw menggunakan lafadz  راع yang secara bahasa berartikan pengembala, namun mengapa yang digunakan lafadz tsb bukan kah lebih jelas jika  menggunakan kata Imam jika yang dimaksud adalah pemimpin atau menggunakan kata padanan lainnya semisal Ra'is dan Amir???.

Nabi saw. pernah bersabda: " مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ"

Tidak lah Allah mengutus nabi, kecuali ia pernah menggembala (ghanam) hewan ternak. (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa salah satu hikmah dari menggembalanya para calon nabi ialah sebagai sarana pelatihan dalam mengatur kesejahteraan umat, sebab penggembala di tuntut untuk menggiring ternaknya menuju ladang rumput (tanggung jawab), menjaganya dari hewan buas atau ancaman lainnya (Amanah), serta di butuhkan strategi yang baik sehingga semua ternak terkoordinir dengan lancar dengan kata lain kesejahteraan ternak terjamin.

Keluasan cakupan kata pengembala serta berbagai sikap yang di butuhkan olehnya seakan me-wanti-wanti  kita sebagai pemimpin seyogyanya memiliki sifat seperti penggembala, dan hal ini cukuplah memberi alasan kita mengapa Nabi saw menggunakan lafadz  راع dalam hadits tentang kepemimpinan di atas.

 

Hadirin sidang jum'at yang selalu meminta petunjuk dan pertolongan Allah swt dalam setiap langkahnya.

 

 

Hadits di awal secara implisit menjelaskan kepada kita tentang pentingnya tanggung jawab, sebab dalam fitrahnya kita semua merupakan pemimpin dan akan di minta pertanggung jawabannya, tanggung jawab memiliki berbagai fase dalam aspek kehidupan kita,

  • Diri sendiri

Pribadi masing-masing, dalam fase ini tanggung jawab berarti konsisten terhadap prinsip yang dianut tidak terbawa hanyut perasaan (dalam artian yang negatif), dan siap menanggung segala konsekuesi dari berbagai pilihan kita, "karena hidup merupakan pilihan". Allah berfirman:

فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ

Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…" (QS. Al-Kahfi; 29). 

  • Keluarga

Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا 

 Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…(QS. At Tahrim; 6)

Setelah fase tanggung jawab pada diri sendiri telah kita lalui, mulailah kita mengaplikasikan sikap ini dalam dimensi yang lebih luas, yakni keluarga. Keluarga di sini bukan berarti teruntuk bagi pria sebagai (ayah/suami), pun wanita (dalam tugasnya sebagai ibu/isteri) serta para anak harus menerapkan tanggung jawab dalam tugasnya masing-masing sebagai kesatuan anggota rumah tangga.

Maka konteks lafadz "… dan keluargamu.." disini bisa berarti isteri dan anak bagi (para ayah/suami), dan bagi para ibu/isteri mereka adalah (suami dan anak), atau pun Ayah dan Ibu bagi para anak, dst. Sebab kesalahan dan kebenaran tidak terikat oleh gender ataupun umur.

Jika ayat diatas lebih menekankan dimensi ukhrawi maka Allah swt dalam ayat lain berfirman tentang tanggung jawab dalam dimensi duniawi :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا  

"dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar". (QS. An Nisa; 9). 

Hadirin sidang jum'at yang senantiasa menjadikan keluarga sebagai patner hidup untuk mencapai impian-impian bersama.

  • Masyarakat

Kemudian fase terluas dalam penerapan sikap bertanggung jawab adalah masyarakat, interaksi kita dengan mayarakat mencakup berbagai sendi kehidupan seperti sosial, budaya, beragama, bernegara dan seterusnya.

Aplikasinya tidak jauh berbeda dengan fase-fase sebelumnya hanya saja pertimbangan terhadap individu-individu yang makin beragam menjadikannya lebih rumit, contoh kita di percaya sebagai pemimpin dalam komunitas terkecil dalam masyarakat (Rt/Rw) maka tanggungan kita sejumlah individu yang kita pimpin, kita di haruskan untuk selalu menjadikan kesejahteraan mereka sebagai acuan dalam kebijaksanaan keputusan kita serta di tuntut untuk menyerap segala konsekuensi yang dihasilkan. Begitu beratnya tanggung jawab dalam fase ini sehingga Allah swt. Menjanjikan rewards yang agung, selaras dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad saw:

Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Dari Nabi Saw berkata: " Tujuh kelompok yang akan Allah naungi di hari ketika tidak ada naungan kecuali milik-Nya: Pemimpin yang Adil... (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukan berarti fase ini di tunjukan hanya bagi para pemimpin, sebab sebagai orang yang dipimpin pun kita masih memiliki tanggung jawab. "Karena pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin bagi apa-apa yang menjadi kewajiban kita, bagi apa-apa yang menjadi tanggungan kita, serta bagi apa-apa yang menjadi pilihan kita, Dan akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

Hadirin sidang jum'at yang memantaskan dirinya untuk memimpin dan di pimpin.

Tanggung jawab adalah beristiqamah dalam hal yang kita yakini kebenarannya, Tanggung jawab adalah amanah dalam setiap kewajiban, tanggung jawab bukanlah keterpaksaan diri dalam ketiadaan pilihan, bukan pula topeng dalam kepura-puraan, sebab ia menuntut kepasrahan dalam pelaksanaannya.

Tanggung jawab memang bukan sikap yang mudah untuk kita aplikasikan baik dalam fase diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat namun bukan pula hal yang mustahil untuk di terapkan. Merubah sikap atau kebiasaan memang tak semudah membalikan telapak tangan (mengutip perkataan KH. Abdullah Gimynastiar) dalam hal ini kita butuh rumus 3M+1T untuk menghiasi kehidupan kita dengan pernik tanggung jawab:

Mulai dari diri sendiri.

Mulai dari yang kecil.

Mulai dari sekarang.

Tanpa lupa bertawakkal.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

PENGUNJUNG ONLINE

We have 34 guests online

Pesan & Kesan



Donasi

PPI Maroko menerima sumbangan yang tidak mengikat.

Kalender

OISAA

Photobucket