PPI Maroko

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Khutbah Jumat : Menjadi Seorang Pemaaf


Oleh : Ust. H. Fakhrurrazi M. Yunus, MA

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A’raaf: 199-201)

Secara alami, ketika seseorang ditimpa sesuatu yang buruk terhadap dirinya akibat tindakan orang lain, akan selalu memberikan reaksi negative. Dalam hatinya akan muncul perasaan dendam, dan ingin membalas terhadap apa yang menimpanya, bahkan dengan tindakan yang lebih berat dan buruk dariapa apa yang telah menimpanya. Sudah cukup banyak peristiwa-peristiwa yang dapat kita saksikan ditengah masyarakat kita. Dimana aksi-aksi balas demam selalu menjadi tontonan kita. Seolah balas demdam adalah satu-satunya cara untuk memuaskan hati dan menentramkan jiwa dari segala kedhaliman dan keburukan yang telah menimpanya. Yang menyesakkan hati adalah ketika ada anggapan dikalangan sebagian masyarakat kita bahwa jika seorang yang tidak melakukan balas demdam terhadap perlakuan buruk yang menimpanya ataupun keluarganya dianggap sebagai pengecut dan hilang harga dirinya.

Lalu pertanyaannya adalah, apakah dengan melakukan perlakuan yang sama terhadap keburukan atau kajahatan yang menimpa kita lantas perasaan dendam itu akan hilang? Jawabannya, tidak ! Atau apakah setelah membalas perlakuan buruk dengan yang lebih buruk perasaan dendam itu akan hilang, karena merasa puas telah mampu melakukan pembalasan yang lebih buruk dari yang kita terima. Sekali lagi, jawabanya tetap tidak ! 

Perasaan dendam tidak akan hilang walaupun perbuatan buruk telah dibalas dengan tindakan yang lebih buruk. Perasaan negative itu akan terus muncul tanpa mampu dibendung. Kenapa….? Karena kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah orang yang telah ditimpa perlakuan yang lebih buruk akibat balasdemdam sebelumnya akan kembali membalasnya dengan balasan yang lebih buruk lagi. Sehingga Puncaknya adalah, salah seorang dari keduanya akan menjadi korban, lalu keluarga yang terkorban akan membalasnya dengan mengorbankan musuhnya. Akhirnya wujud permusuhan yang berpanjangan akan merambat kepada permusuhan keluarga, kelompok, partai dan sebagainya. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi sekiranya semua orang bertindak demikian dalam sebuah Negara ? tentu tidak akan ada kehidupan yang damai yang menjadi dambaan semua umat manusia.

Lantas apa langkah yang sesuai yang harus kita ambil yang ketika kita ditimpa sesuatu yang buruk akibat tindakan orang lain? Agama Islam sebagai agama yang sangat mencintai kedamaian yang merupakan makna dari asal kata Islam itu sendiri, menawarkan sebuah solusi yang mengandung nilai sangat mulia dan luhur yaitu dengan memerintahkan semua manusia menjadi seorang yang pemaaf terhadap perlakuan buruk yang telah menimpanya. Jika kita mampu memaafkan orang yang melakukakan perbuatan buruk kepada kita, maka hal itu akan mendorong orang tersebut untuk meminta dengan tulus kemaafan dari kita, dan tentu saja suatu saat akan menbuat orang tersebut memberikan maaf kepada kita atau orang lain yang berbuat buruk kepadanya. Orang yang mampu memaafkan orang lain paling tidak akan terlepas dari belenggu perasaan demdam yang terus menyiksa batinnya. Tentu bukan hal yang menyenangkan menyimpan bara dendam dalam hati kita. Menyimpan dendam samadengan menanam butir-butir api yang pada saat-saat tertentu akan membakar segala yang ada disekelilingnya jika tidak kita siram dengan butir-butir air kemaafan. Lalu langkah selanjutnya adalah bersabar terhadap apa yang menimpa kita. Maka kebahagian akan muncul mewarnai jiwa. Sebab memaafkan dan kesabaran hanya lahir dari hati yang bahagia. 

Allah SWT telah memberikan bimbingan kepada Rasulullah SAW dan umat Islam melalui firman-NYA :

"Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah SAW melihat jenazah Hamzah R.A yang gugur sebagai syahid dalam perang Uhud dengan keadaan tubuhnya yang memprihatinkan. Siapa yang tidak teriris dan terbakar hatinya menyaksikan jenazah tubuh seseorang yang sangat beliau cintai dengan dada terbelah dan jantung yang telah tercabut dari tempatnya. Seketika itu Rasulullah SAW berucap, sungguh Aku akan mambalas demdam kepada orang –orang kafir, sungguh Aku benar-benar akan membunuh tujuh puluh orang dari mereka. Lalu turunlah ayat tadi, dimana Allah SAW mengingatkan Baginda Rasul untuk bersabar, karena itulah yang terbaik. Akhirnya Rasulullah SAW membatalkan niat untuk membalas dendam terhadap orang kafir yang telah membunuh paman beliau. 

Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa seorang Rasulullah SAW yang seorang Nabi pun dapat tergoda nafsu angkara murka untuk membalas demdam terhadap orang yang telah membunuh paman beliau. Namun berkat wahyu dari Allah SWT beliau mampu membuang jauh nafsu angkara murkanya, dan dengan lapang dada bersabar atas apa yang menimpa beliau. 

Jamaah yang dirahmat Allah SWT.

Memang bukan sesuatu yang mudah untuk menjadi seorang pemaaf. Pemaaf adalah suatu kata yang mudah di ucapkan tapi susah untuk di-implementasikan dalam kehidupan kita. Untuk dapat dikatakan sebagai Pemaaf, seseorang harus mampu memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus melihat lagi apakah kesalahan tersebut yang disengaja ataupun tidak disengaja, sadar atau tidak sadar, besar atau kecil. Pemaaf juga bisa disejajarkan dengan sifat-sifat manusia yang lain seperti, penyabar, penyayang, pengasih dan lain-lain.

 

Seorang yang dikatakan pemaaf tidak akan memilih-milah kesalahan-kesalahan mana saja yang pantas untuk dimaafkan dan kesalahan-kesalahan mana saja yang tidak pantas untuk dimaafkan. Secara arif dia akan memaafkan semua kesalahan-kesalahan orang lain kepada dirinya tanpa syarat.

Sebagaimana sifat-sifat manusia yang lain, sifat pemaaf yang dimiliki manusia tidak datang secara sendirinya. Walaupun sifat dasar manusia itu sebenarnya adalah seorang pemaaf. 

Oleh karenanya, agar sifat pemaaf tumbuh dalam diri seseorang maka sifat itu haruslah di-latih secara rutin dan terus menerus. Salah satunya adalah dengan latihan dan mempraktekan "pemaaf" itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan demikian "pemaaf" akan menjadi suatu kebiasaan bagi diri seseorang dan memaafkan adalah bukan sesuatu yang aneh dalam hidupnya. Sehingga merasa rendah diri karena harus memaafkan kesalahan orang telah mendhaliminya. Justru sebaliknya, dengan menjadi pemaaf orang lain akan menganggap kita sebagai orang yang berjiwa besar dan berbudi luhur.

Suatu saat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - :أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ.

 Nabi saw bersabda :

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi orang yang mengharamkan hartnya untukmu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskan silaturrrahim denganmu.” (HR. Baihaqi)

Ketahuilah oleh kita bersama bahwa, memaafkan sama sekali tidak akan pernah membuat derajat kita jatuh dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah SWT zat yang maha pengampun, maha pengasih dan penyayang terhadap hamba-hambanya. Justru Allah akan memberikan kemuliaan kepada hamba-hamba yang bersedia menjadi hamba-hamba yang pemaaf.

Dalam sebuah hadith riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu,:Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Sedekah tidak mengurangi harta dan karena suka memberi maaf, Allah akan menambah kemuliaan seseorang dan seorang yang merendahkan diri kepada Allah akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.(Hadits Shahih Muslim : 2588-69) 

Ada beberapa Tips agar kita mampu menjadi seorang yang pemaaf adalah seperti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda apabila ingin menjadi pemaaf makan ingatlah dua perkara dan lupakanlah dua perkara. Perkara apakah yang dimaksud oleh Rasul SAW itu??

pertama, ingat-ingatlah kebaikan orang lain dan lupakanlah kebaikan kita kepada orang lain.

kedua, ingat-ingatlah keburukan kita kepada orang lain dan lupakanlah keburukan orang lain kepada kita. 

Bila dua perkara ini sudah menjadi bagian dari sikap kita dalam pergaulan sehari-hari, insyAllah kita akan menjadi seorang yang pemaaf.

Jama`ah Jum`at yang dirahmati Allah

Banyak sekali ayat-ayat Al Quran yang memotivasi kita untuk memberikan maaf kepada sesama kita dengan ganjaran yang besar, terutama sekali bahwa Allah akan mengampuni orang-orang yang memberi mau member maaf kepada saudaranya. 

Ibnu Qayyim Rahimahullah pernah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya banyak sekali dosa-dosa dan kesalahan yang kamu lakukan terhadap Allah yang tidak kamu ketahui. Dan kamu tentu berharap Allah mengampunimu. Maka jika kamu ingin Allah mengampuni dosa-dosamu, maka maafkan dosa dan kesalahan saudaramu. Sesungguhnya balasan Allah sama dengan jenis perbuatan yang  kamu lakukan. Jika kamu memaafkan, maka kamu akan dimaafkan, jika kamu membalas dendam maka kamu akan dibalas dendam oleh orang lain. Dan jika kamu menuntut hak, maka kamu akan dituntut haknya oleh orang lain."

Mari kita berdo`a kepada Allah agar semua kita menjadi orang-orang yang pemaaf terhadap saudara-saudara kita apalagi yang seiman dan seagama dengan kita, pemaaf untuk anak-anak kita, istri memaafkan suaminya dan juga sebaliknya, dengan memaafkan saudara-saudara kita mudah-mudahan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita juga, Amin Ya Rabbal Alamin…



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

PENGUNJUNG ONLINE

We have 40 guests online

Pesan & Kesan



Donasi

PPI Maroko menerima sumbangan yang tidak mengikat.

Kalender

OISAA

Photobucket