PPI Maroko

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Khutbah Jumat : Membuat Ramadan Lebih Berasa


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an At-tanzil "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"(Q.S.  Al-Baqarah : 183)

Imam At Thabari menafsirkan ayat ini: “Maksudnya adalah agar kalian bertaqwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjima’ dengan wanita ketika puasa” .

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan dengan ringkas: “Maksudnya, agar kalian bertaqwa dari maksiat. Sebab puasa dapat mengalahkan syahwat yang merupakan sumber maksiat” .

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah taqwa itu?

Secara bahasa arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Namun secara istilah, definisi taqwa yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

"Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah" .

Ma'asyirol muslimin wa zumrotal mu'minin rahimakumulloh

Kita ketahui bersama  “Tamu agung itu beberapa pekan lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya ? bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemaren masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di peristirahatan umum rumah masa depan. Kapankah datang giliran kita ?

Dalam dua buah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa, dan melewati bulan Ramadhan.

Golongan Pertama digambarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Golongan Kedua digambarkan oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya merasakan lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, dan beliau menshahihkannya. Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini hasan shahih )

Akan termasuk golongan manakah kita ? Hal itu tergantung dengan usaha kita dan taufiq dari Alloh ta’ala.

Ma'asyirol muslimin wa zumrotal mu'minin rahimakumulloh

Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.

Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Diantara kiat-kiat tersebut adalah :

Kiat Pertama : Bertawakkal kepada Allah Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq Allah ta’ala. Cara meraih semua itu adalah dengan bertawakkal kepada-Nya.”

Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf sebagaimana dikisahkan Mu’alla bin Al Fadhl bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.

Langkah pertama sebelum beramal yang menunjukkan sikap tawakal kepada Allah adalah semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya.

Disaat mengerjakan amalan ibadah, point yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah Ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Diantara firman Allah ta’ala ( yang artinya ) : “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” ( QS. Al Bayyinah 5 ).

Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kurang sempurnanya amal dan juga butuh untuk memperbanyak pujian kepada Allah yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal.

Ma'asyirol muslimin wa zomrotal mu'minin rahimakumulloh

Kiat Kedua : Bertaubat sebelum Ramadhan tiba

Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun diantara kita yang terbebas dari berbagai macam dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Setiap keturunan adam itu, banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah bertaubat.” ( HR. Tirmidzi dan isnadnya dihasankan oleh Salim Al Hilaly)

Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih, ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiat.

Kiat Ketiga : Membentengi Puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya

Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan bentuk puasanya dari makanan dan minuman.” (HR. Bukhari )

Jabir bin Abdullah menyampaikan petuahnya, “Seandainya kamu berpuasa maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamau sama.” ( Lihat Latha’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab al Hambali, hal 292 ).

Ma'asyirol muslimin wa zomrotal mu'minin rahimakumulloh

Kiat Keempat : Memprioritaskan amalan yang wajib

Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan wajib. Karena amalan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, bahwa Allah ta’ala berfirman .

وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه

“Dan tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dari amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. (HR. Bukhari ).

Diantara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah mendirikan shalat berjamaah lima waktu di masjid bagi kaum pria, berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits,

من صلى لله أربعين يوما في جماعة يدرك التكبيرة الأولى كتب له براءتان: براءة من النار وبراءة من النفاق

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah dan sellau mendapatkan takbiratul ihram imam, maka akan dituliskan baginya dua jaminan surat kebebasan: bebas dari api neraka dan dari nifaq.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh syaikh al Albani ).

Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung terhadap Allah.

Khutbah II

اMa'asyirol muslimin wa zomrotal mu'minin rahimakumulloh

Kiat Kelima atau kiat terakhir agar Ramadan kita menjadi berkesan : Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini.

Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah selesai dari madrasah itu, kebiasaaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga menghadap Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan : “Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal.” ( QS. Al Hijr : 99 ).

Tatkala Hasan al Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang mukmin melainkan ajalnya”.

Maka, jangan sampai amal ibadah kita berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjamaah di Masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al Quran, doa dan dzikir, rajin mendatangi majelis taklim dan gemar bershadaqah dibulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu merekapun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut ? Dia pun menjawab, “Alangkah buruknya tingkah mereka, mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan.”

Demikianlah, Kiat-kiat yang bisa membawa kita kepada bulan Ramadan agar bulan yang penuh berkah ini menjadi lebih bermakna.

Sebelum kita akhiri khutbah jumat ini, mari kita ingat kembali langkah-langkah menggapai Ramadan lebih bermakna : Kiat Pertama : Bertawakkal kepada Allah Ta’ala, Kiat Kedua : Bertaubat sebelum Ramadhan tiba, Kiat Ketiga : Membentengi Puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya, Kiat Keempat : Memprioritaskan amalan yang wajib, Kiat Kelima atau kiat terakhir agar Ramadan kita menjadi berkesan : Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

PENGUNJUNG ONLINE

We have 13 guests online

Pesan & Kesan



Donasi

PPI Maroko menerima sumbangan yang tidak mengikat.

Kalender

OISAA

Photobucket